Jalan Lain Kesana

6 Mar 2011

Ability has no School, kata sebuah pepatah. Rasanya, hal itu memang tidak salah. Apalagi jika kita kuliah hanya “niat-ingsun” untuk mencari ijazah. Konon, jalur pendidikan formal bisa membuat kita pintar dan berpengetahuan. Oleh sebab itu, konon pula, mahasiswa sering disebut-sebut sebagai biang keladi perubahan (agent of change). Sebagai sebuah alternatif, keberadaan pendidikan formal tentu tidak salah. Tetapi akan menjadi pangkal kebodohan kronis bilamana kita menjadikan lembaga-lembaga pendidikan itu sebagai satu-satunya jalan menggapai ilmu pengetahuan.

Disisi lain, metode “self learning” atau otodidak merupakan cara yang juga cukup sering ditempuh para pemburu kecakapan. Dan satu-satunya hambatan kita untuk melakukan metode ini adalah diri kita sendiri. Harus ada niat ekstra kuat untuk mengawali dan konsisten di jalur itu. Karena jalan orang otodidak hampir selalu tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya.

Menurut pakar ilmu perilaku, tak semua orang nyaman dengan sistem belajar otodidak atau sistem pembelajaran aktif. Malah sebagian besar manusia dilahirkan sebagai makhluk non-didaktik. Namun, sistem pembelajaran aktif dengan menghadapkan anak langsung pada permasalahan, punya efek kognitif yang luar biasa.

Tidak heran, dalam beberapa dekade terakhir betapa menjamurnya lembaga atau sekolah kepribadian. Tetapi, pelatihan-pelatihan insidentil yang diadakan, harga tiketnya mencapai ratusan ribu rupiah. Itupun tidak menjamin bisa merubah seseorang secara instan. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif bagaimana agar kepribadian, pengembangan sikap serta metode berhubungan dengan orang lain bisa tetap diraih.

Salah satu sarana yang sebenarnya cukup ampuh untuk mengembangkan sikap tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar, namun rendah sekali peminatnya -atau paling tidak, banyak yang tidak bertahan- adalah berpartisipasi dalam sebuah komunitas atau yang lazim kita sebut sebagai “organization”. Dalam organisasi, umumnya bisa ditemukan berbagai corak dan warna manusia dengan latar belakang yang berbeda. Sehingga setiap anggota bisa meningkatkan pemahaman dan pola pikir terhadap permasalahan yang dialami oleh organisasi tersebut.

Ekses positifnya, kedewasaan berpikir dan kematangan jiwa seseorang bisa semakin meningkat dengan adanya berbagai variasi permasalahan yang mendera organisasi tersebut untuk dipecahkan bersama. Lewat organisasi atau komunitas-komunitas hoby dan minat, sistem pembelajaran itu akan ada dengan sendirinya. Tanpa “grand scenario” dengan “guru” yang bisa diajak berdiskusi dan bercanda. Senior-senior yang dengan sukarela membantu kesulitan kita. Sayang, keberadaannya relatif “langka” dan sulit ditemukan dan perlu keberanian besar untuk memulai.

Pandangan umum berorganisasi …...

Apa yang membuat seseorang mau bertahan dalam sebuah organisasi? Kita akan sepakat menyebut satu kata penting, komitmen. Komitmen merupakan motivasi dalam diri seseorang untuk mengerjakan sesuatu, termasuk berkarya dalam organisasi. Sebaik apapun kompetensi yang dimiliki seseorang, tidak akan membuahkan hasil yang besar jika tidak dibarengi dengan komitmen. Colquitt Lepine dan Wesson, dua orang pakar organisasi dan bisnis ini membagi komitmen terhadap organisasi menjadi tiga bagian, yaitu Continuance commitment, Affective commitment dan Normative commitment.

Continuance commitment merupakan komitmen yang dibangun semata-mata hanya berdasar pertimbangan ekonomi (feed back yang diberikan oleh organisasi). Besarnya “bayaran” maupun “bonus” sangat menentukan komitmennya pada organisasi tersebut. Makin besar bayaran maupun bonus yang diterima maka makin besar pula komitmen yang diberikan pada organisasinya. Itulah salah satu alasan seseorang mau bertahan dalam sebuah organisasi. Kejelasan perencanaan “karir” dalam organisasi juga menentukan besar kecilnya komitmen yang dimiliki siapapun yang tinggal dalam organisasi.

“Staying because you need to” merupakan pernyataan yang tepat untuk menggambarkan komitmen tersebut. Niat seseorang yang bergabung dengan sebuah organisasi, apakah karena organisasi itu ada “bayaran”nya, atau karena “bonus”nya besar ataupun karena alasan-alasan ekonomi lainnya tidak akan membuat seseorang bertahan lama dalam organisasi tersebut. Pasang-surut dalam dunia organisasi adalah hal yang wajar. Baik permasalahan kader maupun “pemasukan” untuk menjalankan roda organisasi itu sendiri. Jika kita “butuh” kita akan bertahan, tapi jika sebaliknya, maka kita akan pergi begitu saja.

Affective commitment merupakan komitmen yang dibangun berdasar kedalaman ikatan emosional antara anggota dan organisasinya. Semakin dalam ikatan emosional semakin memperbesar komitmen dalam diri anggota tersebut. Ikatan emosional bisa berupa ikatan persaudaraan dengan teman dan lingkungan organisasi. Komitmen itu membuat seseorang tinggal dalam organisasi karena memang ia menginginkannya. Semangat yang membara biasanya mewarnai dalam menuntaskan amanah yang diberikan kepadanya.

Istilah kerennya, “staying because you want to”. Keinginan untuk belajar dan bersosialisasi dengan banyak orang dengan pemikiran yang beragam. Keinginan untuk mempererat silaturrahim, dengan merasakan susah dan senang bersama-sama dalam berorganisasi. Keinginan-keinginan tersebut akan mengantarkan seseorang pada kepedulian atau sikap “respect” pada orang lain disekitarnya.

Normative commitment merupakan komitmen yang dibangun berdasarkan suatu kewajiban. Perasaan yang menyelimuti seseorang dalam berkomitmen adalah rasa berhutang budi kepada organisasi. Organisasi itu yang membesarkan saya. Organisasi tersebut memberi kesempatan saat saya belum memiliki kompetensi apapun. Perhatian yang penuh dari organisasi turut memperbesar komitmen yang dimiliki anggotanya. Komitmen itu membuat seseorang tinggal dalam organisasi karena merasa punya kewajiban. Komitmen jenis tersebut kurang mampu meningkatkan rasa “menikmati” amanah yang ada karena hanya berdasar pada pemenuhan kewajiban.

Istilah “staying because you ought to” sangat pas untuk menggambarkan komitmen jenis normatif. Merasa harus membalas kebaikan, merasa bersalah jika meninggalkan dan sebagainya tidak akan memunculkan ketulusan yang benar-benar keluar dari hati yang terdalam, atau ketulusan yang kurang sempurna.

Manakah yang lebih baik? Jawabannya kembali pada pemahaman masing-masing tentang “berorganisasi” itu sendiri. Namun menurut pendapat saya, ketiga jenis komitmen ini bisa berubah dari satu jenis ke jenis yang lain berdasarkan sebab-sebab tertentu. Misalnya, komitmen seseorang pada awalnya masuk dalam kategori Continuance atau Normative, namun karena sering berkumpul dengan teman-teman yang lain dan mengalami pengalaman yang menyenangkan atau menyedihkan bersama maka “alasan” dia berorganisasi bisa saja berubah menjadi Affective di kemudian hari, begitu pula sebaliknya. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, apa motivasi kita berorganisasi.

- Khoirul Anam De Hasyimie
Share this article on :

1 comments:

ghost writer said...

sangat hebat kamu mengutarakan persoalan begini...

Post a Comment

 
© Copyright 2010-2011 Mari Berkawand All Rights Reserved.
Template Design Premium | Powered by Blogger.com.