Tentang Patung Loroblonyo

18 Mar 2011

Patung Loroblonyo berkaitan mitos Dewi Sri dan Sadono dalam hubungannya dengan ritual kesuburan bagi masyarakat Jawa, keterkaitan mitos Dewi Sri-Sadono dengan expresi visualisasi patung loro blonyo dalam sistem kepercayaan masyarakat Jawa dan untuk mengetahui makna filosofis patung loro blonyo dalam masyarakat Jawa.
Dusun Bubong, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, DIY, adalah suatu kawasan desa yang melestarikan budaya topeng dan patung loroblonyo mulai dari produksi, pemasaran dan ritual tradisinya. Disana ada budaya penghormatan bagi Dewi Sri atau sering disebut Mbok Sri sebagai Dewi Kesuburan. Tradisi tersebut bernama ”Rasulan ” sebagai simbol ungkapan rasa syukur setelah penanaman padi masyarakat membuat nasi tumpeng dan dan di kelilingi macam-macam palawija sebagai simbol ”Boyong Mbok Sri” atau disebut meindah Dewi Sri.

BENTUK
Tetap Patung loroblonyo adalah patung sepasang pengantin jawa. Berujud sepasang pengantin jawa yang menggunakan pakaian adat jawa dengan atribut lengkapnya. Menggunakan beskap untuk pengantin pria, basahan untuk pengantin putri. Pada awalnya patung loroblonyo berbentuk pengantin jawa dengan posisi duduk. Seiring perkembangan jaman dan perkembangan seni rupa kontemporer, patung loroblonyo mengalami proses perubahan bentuk, ada yang berdiri, dan ada aplikasi lain-lainnya seperti yang tampak pada gambar. Namun dalam perubahan bentuk tersebut patung loroblonyo tetap memperhatikan pakemnya yaitu sepasang pengantin jawa. Dan bentuk pasangan pengantin jawa tersebut adalah pakem dari patung tersebut, mengenai busananya menyesuaikan daerah setempat, yaitu gaya pakaian adat jawa gaya Surakarta ataupun gaya kraton Yogyakarta.
Gambar patung loroblonyo dengan posisi duduk

GAYA
Gaya solo

Gambar patung loroblonyo gaya Yogyakarta

Patung loroblonyo sering disebut memiliki gaya yaitu gaya surakarta dan gaya yogyakarta. Gaya disini lebih condong ke corak. Yaitu corak busana pengantin yang digunakan. 

FUNGSI
Patung loroblonyo pada awalnya digunakan sebagai lambang dari dewi padi dan sebgai lambang kesuburan. Kesuburan disini berarti kesuburan dalam pertanian dan juga kesuburan dalam rumah tangga.
                     Masyarakat jawa meyakini bahwa patung loroblonyo membawa kesuburan, keharmonisan rumah tangga bagi rumah yang memiliki patung tersebut. Makna simbolik yang terkandung dalam patung sepasang pengantin jawa tersebut sangat dalam bagi suku jawa.
                     Penempatan patung loroblonyo yaitu di sentong tengah rumah joglo. Dimana patung pengantin perempuan berada di sebelah kiri, dan pengantin laki-laki di sebelah kanan. Namun untuk lambang pengantin yang kedudukan pengantin perempuan lebih tinggi derajatnya, anak raja misalnya peletakkan di balik. 

Share this article on :

1 comments:

Syaifurrahman said...

Semoga budaya kita tetap terjaga dan tidak bercampur dengan budaya barat, sehingga tetap terjamin keasliannya dan tradisionalitasnya.
Salam Blogger

Post a Comment

 
© Copyright 2010-2011 Mari Berkawand All Rights Reserved.
Template Design Premium | Powered by Blogger.com.