Al-Quran Jadi Bungkus Nasi

18 May 2011

Mari Berkawand - Hari ini saya menyalami kejadian yang sangat menyayat batin.
Pagi tadi saya Menemukan lembaran Al-Quran jadi bungkus nasi yang saya makan.
Masya Allah, sungguh sangat memilukan bagi saya.

"Ini bukan semata-mata soal pendeta yang membakar Al-Quran, ini bukan semata-mata soal pelecehan terhadap institusi agamamu, ini bukan semata-mata soal permulaan dari sebuah peperangan antar-agama, ini semua tentang kau yang selama ini menyia-nyiakan Al-Quran, tentang kau yang secara laten dan sistematis menyiapkan api dan bensin dari perilaku burukmu untuk menunggu Al-Quran dibakar lidah waktu yang meminjam tangan orang-orang yang membenci agamamu! Mereka tak akan berani membakar Al-Quran, kitab sucimu itu, kalau saja selama ini kau sanggup menunjukkan nilai-nilai agung yang dibawa Nabimu, nilai-nilai kebaikan yang termaktub dalam teks suci kitab yang difirmankan Tuhanmu! Maka bila kau tak sanggup menggemakan Quran amanat nabimu ke segala penjuru, tak sanggup menerima cahayanya dengan hatimu, bakarlah Al-Quranmu!”

Lalu seketika terbayang, Al-Quran yang teronggok sia-sia di rak-rak buku tak terbaca, Al-Quran yang diletakkan di paling bawah tumpukkan buku-buku dan majalah, Al-Quran yang kesepian tak tersentuh di masjid dan langgar-langgar, Al-Quran yang tak terbaca dan (di)sia-sia(kan)!

Saya menangis; memanggil kembali hapalan yang entah hilang kemana, mengeja kembali satu-satu alif-ba-ta yang semakin asing dari kosakata hidup saya. Saya melacaknya dalam ingatan saya yang terlanjur dijejali kebohongan, kebebalan, penipuan, dan pengkhiatan-pengkhiantan. Di manakah Al-Quran dalam diri saya?

Share this article on :

4 comments:

Anonymous said...

salam sejahtera, saya yakin yg bisa baca Al qur'an pasti tau itu al qur'an atau bukan
makasih kolom komentnya saya cuma orang bodoh gak ngerti apa-apa alias kampungan

Yosef said...

kawan saya juga sedih liat nya kawan ..
baca ini kawan..
" waktu kau masih anak anak ,kau bagaikan teman sejatiku,,dengan wudju kau dalam keadaan suci kau pegang aku,,kau baca aku dengan lirih dan keras,,sekarang kau telah menjadi dewasa,,nampaknya kausudah tidak beminat lagi padaku,,apakah aku bacaan yg usang?yg itnggal sejarah?sekarang kau simpan aku dengan rapihkau biarkan aku sendiriaku menjadi kusam dalam lemari,berlapis debu,di makan kutu,,ku mohon peganglah aku lagibacalah aku setiap hari,karna aku akan menjadi penerang dalam kuburmu "
andai saja kitab suci al quran ku hidup pasti dy akan berbicara seperti itu

Anonymous said...

itu bukan al-quran gan. tahlil itu. tapi tetep gak boleh sih

Anonymous said...

Tahlil juga bacaannya diambil dari AL-Quran. Tetap gak boleh disepelekan.

Post a Comment

 
© Copyright 2010-2011 Mari Berkawand All Rights Reserved.
Template Design Premium | Powered by Blogger.com.